Browse Category

Indonesian Network

Jaringan Kabel Bawah Laut - JaKa2LaDeMa

Strategi Pertahanan Nasional dengan Satelit Nebeng?

Satelit Telkom-3 Ilustrasi (sumber : republika.com)

Dalam debat ke-3 Calon Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019 tadi malam ada pertanyaan yang menarik dari kandidat no.1 kepada kandidat no.2 yang mengunggapkan penggunaan drone sebagai alat pertahanan nasional negara Indonesia (baca: memantau illegal shipping, illegal logging, dan perang cyber).

Pertanyaan dari kandidat no.1 kira-kira begini “dalam mewujudkan strategi pertahanan dengan drone itu, tentunya kita butuh satelit, nah apa strategi bapak terhadap Indosat yang udah dijual murah termasuk sumber dayanya yang diantaranya adalah satelit beserta slot orbitnya?Â

Kandidat no.2 menjawab dengan enteng, kita bisa beli lagi Indosat jika pertumbuhan ekonomi kita diatas 7% dan untuk urusan satelit buat drone kita bisa nebeng satelit dulu.

Pertanyaan dan jawaban yang cukup menarik dari kedua capres RI tersebut. Berbicara soal satelit, kebetulan tahun 2012 yang lalu saya pernah menulis info mengenai daftar satelit komunikasi yang dimiliki Indonesia saat itu, dapat dibaca di “Satelit Komunikasi Indonesia“. Namun saya coba tuliskan daftarnya dibawah ini berdasarkan data UCS Satellite Database yang terakhir di update bulan Februari 2014. (termasuk yang dikelola Indosat)

Nama Satelit Negara Pengelola Penggunaan Tujuan Tahun Luncur Prediksi Umur Titik Bujur
Garuda-1 Indonesia/Philipina/Thailand Asia Cellular Satellite Komersil Komunikasi 2/12/2000 12 tahun 123.03
LAPAN-Tubsat Indonesia LAPAN Pemerintah Observasi 1/10/2007 0
Palapa C2 Indonesia PT Indosat Komersil Komunikasi 5/15/1996 15 tahun 112.99
Palapa D1 Indonesia PT Indosat Komersil Komunikasi 8/31/2009 15 tahun 150.97
Telkom 1 Indonesia PT Telkom Komersil Komunikasi 8/12/1999 15 tahun 108.01
Telkom 2 Indonesia PT Telkom Komersil Komunikasi 11/16/2005 15 tahun 118.02

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat 6 satelit yang dimiliki bangsa Indonesia yang saat ini mengudara, namun 3 diantaranya dalam waktu dekat sudah tidak dapat digunakan lagi karena masa waktu beroperasi. Jumlah satelit yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan panjangnya garis bujur wilayah Indonesia. Dengan terbatasnya jumlah satelit yang kita milki, untuk urusan layanan yang membutuhkan komunikasi via satelit saja saat ini kita sudah memasuki era “nebeng” berbagai satelit asing yang beroperasi di wilayah Indonesia (sila klarifikasi ke para penyedia jasa layanan komunikasi via satelit 🙂 ). Kemudian untuk urusan peningkatan strategi pertahanan nasional negara kita tercinta ini mau dengan strategi nebeng satelit juga? hmm…

Sebenarnya ada beberapa pilihan strategi yang dapat kita lakukan untuk hal ini, salah satu strategi diantaranya adalah dengan cara mengambil alih slot orbit satelit. Pilihan strategi yang paling bijak dikondisi padat dan susahnya mencari slot orbit untuk peluncuran satelit baru. Hal ini sudah diawali pada jamannya Pak SBY dan Pak Tifatul Sembiring, beliau berani untuk memberikan slot orbit satelit (yang ikut terjual) yang sebelumnya dimiliki Indosat, kepada Bank BRI, baca “BRI Resmi Rebut Slot Orbit Satelit Bekas Indosat“. Indonesia butuh Presiden dan Menteri Kominfo yang berani dan tegas untuk “mengambil alih” slot orbit satelit yang terutama berada di atas wilayah Indonesia  di rentang 95° BT and 141° BT (ini hak kita) yang saat ini diduduki banyak sekali satelit milik asing. Dengan cara negosiasi atau cara yang elok lainnya pemerintah Indonesia bisa berdiskusi dengan jantan untuk “mengambil alih” beberapa slot orbit satelit yang sebentar lagi umur operasi satelitnya habis untuk kemudian diberikan kepada operator Indonesia. Memang butuh dana besar untuk meluncurkan satelit sendiri, tapi ini pasti dapat dilakukan dengan strategi pendanaan yang jitu dari pemimpin bangsa Indonesia, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi :D.