Browse Category

General

sumber gambar: himasakta-fkip-unila.blogspot.com

Artikel Ilmiah Terakhir…

Seperti yang saya tulis pada artikel “2 Tahun Belajar di Jaringan di Korea, Apa yang Didapat?” Salah satu yang amat sangat penting dan berharga yang saya dapatkan adalah kesempatan belajar, mengetahui, menulis, dan mempublikasi artikel ilmiah. Baik artikel ilmiah yang dipublikasi di suatu konferensi maupun jurnal internasional.

sumber gambar: himasakta-fkip-unila.blogspot.com
sumber gambar: himasakta-fkip-unila.blogspot.com

Syarat minimal untuk lulus program master di jurusan saya sebenarnya cukup mudah, yakni mempunyai artikel yang setidaknya terpublikasi di domestik jurnal terakreditasi National Research Foundation (NRF) of Korea, kalau di Indonesia mungkin bisa dibilang jurnal terakreditasi LIPI atau DIKTI kali ya. Namun, sebagai penerima beasiswa penelitian atau bahasa kerennya research scholarship dengan kewajiban melakukan riset di lab lebih besar dibanding aktivitas perkuliahan di kelas, tuntutan untuk memiliki publikasi artikel ilmiah pun diatas apa yang menjadi standar minimal kelulusan yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan yang salah satu diantaranya adalah dikarenakan lembaga pendanaan proyek dan riset seringkali tak hanya meminta laporan akhir hasil penelitian namun juga mensyarakatkan publikasi artikel dengan ketentuan minimal yang beragam mulai dari artikel konferensi domestik, konferensi internasional, jurnal domestik, internasional jurnal bahkan hingga international jurnal yang terakreditasi scopus dan thomson (SCI/SCIE/SSCI). Dikarenakan hidup dan matinya operasional lab dan beasiswa yang kita terima bergantung dari berbagai penyandang dana tersebut, tentunya persyaratan publikasi berbagai artikel ilmiah tersebut tak dapat dielakkan.

Dikarenakan para senior lab sangat rajin menulis artikel ilmiah untuk dipublikasi di berbagai konferensi dan jurnal, bahkan ada seorang senior yang punya passion luar biasa dalam menulis artikel ilmiah, setidaknya setiap bulan satu artikel dikirimnya. Maka ekspektasi Professor pembimbing saya, para mahasiswa bimbingannya dapat pula mengikuti jejak para senior tersebut :D. Sebenarnya, publikasi artikel ilmiah semasa menempuh program pascasarjana sangat baik sebagai bahan pembelajaran untuk kita yang akan terjun ke dunia akademik ataupun menjadi peneliti. Perlu kita sadari dan ketahui, di dunia ini terdapat ribuan penerbit jurnal ilmiah dengan kualitas yang beragam. Di jurnal mana artikel kita dipublikasi, akan menentukan tipe dan tingkatan pembaca artikel ilmiah yang kita tulis. Misalnya, kita mempublikasi artikel ilmiah di jurnal level domestik Sragen, maka kemungkinan besar pembaca artikel ini adalah para peneliti dan akademisi yang berada di Sragen. Perlu kecermatan, kehati-hatian, dan kesadaran level cakupan dalam menentukan jurnal untuk mempublikasi artikel yang kita buat. Beberapa lembaga akreditasi seperti Scopus dengan Scimago Journal Rank dan Thomson dengan ISI Web of Knowledge dapat dijadikan referensi. Sebagai tambahan, katanya publikasi artikel ilmiah juga dapat menjadi bahan catatan dan pertimbangan bagi calon pembimbing kita pada jenjang berikutnya.

Bulan ini saya mendapatkan kesempatan untuk mempublikasikan artikel ilmiah terakhir saya selama belajar jaringan di Korea. Semoga ini bukanlah artikel ilmiah terakhir saya, semoga di Indonesia nanti dengan lingkungan dan suasana yang baru, saya dapat senantiasa belajar dan meningkatan kualitas artikel ilmiah yang dapat saya tulis karena saya sadar kualitas tulisan saya belumlah baik dan belum dapat berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.